Pages

Showing posts with label not real. Show all posts
Showing posts with label not real. Show all posts

Wednesday, 20 August 2014

Suara itu...

Beberapa kali aku mendengarnya. Bunyi-bunyian yang berasal dari rumah kosong di depan rumahku. Ya, aku memang sering tidur paling larut. Dan karena kamarku berada di depan, suara apapun yang berasal dari depan rumah pasti akan terdengar sangat jelas. Termasuk bunyi berisik itu. Seperti ada orang sedang mengerjakan sesuatu di dalam rumah, kemudian secara tak sengaja menjatuhkan sebuah benda yang menimbulkan sedikit kegaduhan.

Malam inipun, aku mendengar bunyi berisik dari depan. Semua sudah tidur. Aku teringat belum menutup pagar. Benar saja, bahkan tirai di jendela ruang tamu masih belum aku tutupkan. Aku mengintip dari balik jendela. Hening. Suara berisik yang tadi ada mendadak lenyap. Aku melihat kucingku di teras rumah. Aku putuskan keluar, menutup pintu pagar. Tidak ada siapapun. Rumah tetangga sudah gelap, dan ditutup rapat. Beberapa saat terdengar kegaduhan lagi, yang membuat kucingku bergegas lari masuk ke dalam rumah. Akupun segera masuk dan menutup pintu rumah, serta menutupi jendela dengan tirai.

Thursday, 13 March 2014

Take me out..!!

Aku tidak ingat kapan terakhir kali merasakan kecewa. Seingatku, hidupku lebih banyak kuhabiskan untuk memikirkan orang lain. Aku takut mengecewakan orang lain. Aku ingin terlihat baik di mata orang lain. Buruk sekali, but that’s the fact. Sebenarnya aku sangat cuek, hingga tak terlalu peduli dengan apa yang akan terjadi padaku. Let it flow, selalu itu yang kupikirkan. Seolah yakin bahwa semuanya akan bisa terlewati tanpa harus bersusah payah. Aku sering lupa bahwa air selokan saja sering tersumbat, tidak selalu mengalir. Air di sungai pun harus beberapa kali terbentur batu kali yang besar ketika mengalir, yang pastinya menyakitkan. Tapi entah kenapa aku tidak sadar juga. Mbluboh kalau orang Jawa bilang.

Sunday, 23 February 2014

Joni Johnius

Siang itu, langit yang tadinya mendung mendadak tidak jadi mendung, karena seekor kodok masuk ke rumahku. Ukurannya enam kali lebih besar dibanding kodok pada umumnya. Warna kulitnya hijau bercampur kuning. Anehnya, dia memakai pita pink di lehernya. Sebenarnya aku sedikit jijik dengan kodok, tapi aku sama sekali tidak merasa takut ketika dia meloncat ke pangkuanku dan menatapku lama. Beberapa detik pertama, aku ragu untuk menyentuhnya. Tapi kodok itu terus mendekatiku. Aku menyentuhnya setelah si pawang meyakinkanku bahwa kodok itu aman. Baiklah, ternyata kodok itu tidak terlalu buruk, bahkan aku memeluknya. Kata si pawang, kodok itu senang sekali setelah aku peluk. Meski sambil tertawa menanggapinya, aku percaya dengan kata si pawang.

Monday, 20 January 2014

° • · ♡·♥ ♥·♡ · • °

Cinta, apakah kamu tahu,
semasa kanak kami memaknaimu tak sebatas
pada gulali dan gula-gula kapas.

Lalu ketika remaja,
rasa manis itu menjelma dalam getar berbeda
yang tak melulu manis.

Dan kedewasaan,
sungguh membuat apa-apa tentangmu begitu rumit…
kadang kami ingin lepas darimu.

Namun senja, membuat kami mencarimu kembali,
walau dengan tertatih-tatih.

Kamu, dalam bentuk apapun,
dan tak sebatas pada kata: “aku mencintaimu”…

Saturday, 4 January 2014

Aku istrimu.

Hadir lagi di mimpiku, kau.
selalu di siang hari menjelang sore.
namun kali ini aku tidak ingat betul apa yang terjadi.

Aku hanya ingat adegan saat kita berdua duduk bersebelahan.
Kau meraih tanganku, hendak menggenggamnya.
ku tarik tanganku.
kau heran dan bertanya “kenapa?”
aku hanya mampu menggelengkan kepala
tanpa mampu membalas tatapanmu.

Aku pikir kau marah,
tapi tidak, kau malah merengkuhku lembut ke dalam pelukmu:
“Hey, sekarang kan udah boleh.” Katamu sambil tersenyum.

Aku terdiam kaku tanpa membalas pelukanmu,
lama mencerna arti kata-katamu,
hingga akhirnya aku menyadari,
aku kini sudah jadi istri orang.
dan orang itu adalah KAMU.

Friday, 15 November 2013

Mandi

Alkisah, di suatu siang yang bising oleh gemuruh air hujan, dua orang anak manusia (laki-laki dan perempuan) berjanji pergi bersama. Dua orang, bukan sepasang. Karena mereka bukanlah sepasang kekasih. Mereka juga bukan pergi berkencan, hanya menyelesaikan sebuah ‘urusan penting’ bersama.

Bersama? Sebenarnya tidak harus bersama, tapi mereka berdua sama-sama merasa memiliki tanggung jawab atas ‘urusan penting’ tersebut.

Seakan merestui, hujan yang sedari tadi turun kini berhenti perlahan. Matahari sempat bersinar, walau kemudian ia memilih kembali bersembunyi dibalik awan. Yang jelas, sore itu menjadi sore yang pas untuk bepergian. Tidak panas, tidak hujan :)

Datanglah sang lelaki menjemput si gadis di rumahnya. Sedikit terkejut, karena sang lelaki datang lebih cepat dari yang ia duga. Maka segera si gadis mengunci pintu rumah dan pagar, serta naik ke jok belakang motor sang lelaki. Si Gadis yakin betul kalau lelaki yang menjemputnya ini sudah mandi, karena ia lebih wangi dari biasanya, dan wajahnya tampak lebih fresh. Sang lelakipun yakin kalau si gadis di belakangnya sudah mandi. Wajahnya terlihat lebih cerah dan cantik.

Wednesday, 2 October 2013

Is that you?

Nyata atau mimpi, akhir2 ini aku sulit membedakannya. Seperti sore ini. Ketika kulihat sosokmu, tegak berdiri di depan pintu rumah yg baru saja kubuka. "Is that u?" kataku dalam hati. Aku berbalik, meninggalkanmu sendiri di depan pintu rumah. Bukan, aku bukanya malu, karena kau mendapatiku berpenampilan kacau sehabis tidur siang tadi. Tapi aku hanya ingin memastikan bahwa ini nyata.

Aku kembali menuju tempat tidur. Kosong. Ternyata aku sudah bangun. Rasanya semua mulai tampak nyata, ketika ibu menghampiriku dan berkata: "piye si, ada tamu kok ga disuruh masuk?" Aku hanya menatap ibu dengan linglung. "ealah, malah meneng wae. Raup sek, ben ora ngantuk."

Aku menurut kata2 ibu. Pergi mencuci muka. Kini aku merasa lebih 'hidup'. Menatap cermin, setengah mati aku terkejut. Seberantakan ini? Aku merapikan diri, berganti baju. Memakai jilbabku, menyemprotkan sedikit parfum. Tidak ada waktu untuk mandi. Aku segera ke ruangtamu. "wih cantiknya!" kamu yg sedaritadi memegangi stoples dan mengudap isinya sambil menungguku, menghentikan aktifitas.

Aku diam. "Pasti masih ngantuk deh. Mandi dulu kek, biar konek." Kuraih stoples lain di dekatku, mengambil isinya, "Anggep aja udah mandi." Kamu tersenyum, manis sekali. Gula atau madu saja kalah. Seketika aku merasa benar-benar sadar. Aku rindu sekali padamu. Ah mimpi apa aku semalam. Hingga esok harinya bisa melihatmu.

Aku mendekat padamu, wangi parfummu yang mulai kuhafal, menyambutku seketika, membuatku selalu betah berlama-lama di dekatmu.

Saturday, 7 September 2013

SAM(pun)PAH?

tahu tidak?
tidak tahu
yasudah
kok yasudah?
ya iya, mau apa lagi?
emm gitu, yaudah deh.
nah kan, kamu juga ikutan bilang yaudah.
yaudah, gak jadi..
kok ga jadi?
katanya tadi ga boleh ikut2an?
iya, emang ga boleh.
yaudah tho.
iya.
iya?
iya, kenapa?

Friday, 9 August 2013

Dua Lelaki

Dua lelaki, aku mengenal salah satunya. Teman baikku, si pemilik rambut ikal dan senyum memikat. Yang satunya? Entah siapa. Rasanya aku baru melihatnya pertama kali. Laki-laki bertubuh gempal dan berwajah sangar. Dia sangat cuek. Tapi kenapa orangtuaku begitu mempercayainya untuk menjagaku? Aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Diapun tidak memperkenalkan diri. Dingin. Sedingin angin malam yang membuatku merasa tidak sehat esok paginya.

---

Mungkin orangtuaku masih merasa kecewa, karena lelaki pilihanku, yang kuanggap serius dan mau segera menikahiku, malah terkesan menghindar. Kenapa? Aku bahkan tidak pernah mendapat kepastian ketika aku mencoba membahas pernikahan kami bersamanya. Dia selalu bilang, Ah gampanglah, aku sibuk, masih ada yang harus aku kerjakan. Selalu seperti itu, hingga akhirnya orang tuaku kesal, dan dia menghilang perlahan dari kehidupanku.

Thursday, 25 July 2013

You

....

Masih jelas teringat, kala sore itu, kita jalan berdua bersisian di trotoar yang ramai dilalui pula oleh sepeda motor. Semua punya satu tujuan yang sama, sampai di rumah dengan segera, dan menikmati buka puasa bersama keluarga. Membabi buta, para pengendara sepeda motor berebut jalur yang kita lalui, hingga membuatmu menarikku pelan dan membawaku ke sisi aman jalan. Sama-sama bahagia, meski entah karena apa, itulah perasaan kita.

Jam masjid tempat kita sholat ashar tadi menunjuk pukul 16.30 wib, seharusnya kamu segera pulang. Tapi seperti tak kulihat keinginan itu, ketika kau pelankan langkah kakimu di sampingku sehabis kita membeli beberapa botol minuman dan makanan manis. Puluhan pasang mata menatap kita, mungkin karena kitalah satu-satunya pejalan kaki di trotoar ini. Biarlah.. asal bersamamu, aku merasa aman. Masih berat kurasa meninggalkanmu, yang entah kapan dapat kujumpai lagi. Namun bus yang kutunggu-tunggu muncul juga. “Aku harus pulang,” kataku. Kau mengikuti pandanganku ke arah datangnya bus.

Wednesday, 24 July 2013

Jodoh Pasti Bertemu

Klik!

Tertutup sudah kotak percakapan kita di facebook malam ini.
Rasa sesak yang memenuhi dada luruh seketika, berganti rasa tenang dan haru. Air mata membawa serta kemarahan dan ketidakjujuran yang ada. Jelas sudah kini semua. Biarlah cukup kita yang tahu bahwa kita saling menyayangi.

Benar katamu, Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. kalaupun bukan kamu, pasti akan ada orang lain yang lebih baik, yang akan menemaniku nanti. Dan kalaupun kita ditakdirkan untuk bersama, suatu saat kita akan dipertemukan lagi dengan keadaan yang tak seperti ini.

Tetap tersenyum, meskipun hidup tak seindah yang kita bayangkan.

*

Tuesday, 16 July 2013

Bakso+Wedang Ronde

Pukul tujuh lebih lima menit. Hari ini aku pulang malam. Ada acara penting di sekolah. Perutku mulai terasa lapar rupanya. Ketika satu per satu siswa dan guru pulang, Bu Asih menghampiriku. “Pulang naik apa Bu?” Aku berhenti mengamati siswa yang berjalan bergerombol menuju gerbang sekolah. “Naik sepeda Bu. Bu Asih sendiri bagaimana?” Guru Matematika itu tersenyum, “Dijemput suami Bu.”

Kami berjalan bersama menuju gerbang sekolah yang mulai sepi. Bu Asih tampak menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok suaminya. “Mungkin suami saya masih dalam perjalanan kemari, kalau Bu Nisa hendak pulang dulu tak apa. Nanti kemalaman lho.” Benar juga, aku jadi agak seram membayangkan jalanan gelap yang harus kulalui nanti. Baru hendak berpamitan pada Bu Asih, seseorang memanggilku, setengah berteriak. Aku dan Bu Asih menoleh ke arah suara itu.Sosoknya yang tadinya tak jelas terhalang gelapnya malam, kini mulai mendekat dan jelas terlihat.

“Selamat malam Bu Guru,” katanya sambil tersenyum dan menganggukkan kepala sopan padaku dan Bu Asih.

Saturday, 16 March 2013

(っ ̄³ ̄)っ ~♡ Sunday!


Jika sebagian orang boleh bangun agak siang di hari Minggu, mungkin aku bukan salah satu diantaranya. Karena aku justru harus bangun pagi-pagi sekali, demi tak ketinggalan bus jurusan Semarang.

Bus besar yang dingin itu biasanya tidak terlalu penuh, karena penumpangnya hanya beberapa orang yang butuh pergi ke Demak atau Semarang di minggu pagi. Bis besar ini nantinya akan berhenti di Terminal Terboyo. Membuatku harus berpindah bus lagi demi bisa sampai ke kampusku di daerah Mangkang. Tak perlu bingung, karena sesampainya di Terboyo, bus-bus kecil warna kuning akan segera menyambutmu. Sudah pasti di kaca bagian depan bis terdapat nama daerah yang dituju bis tersebut.

Ada dua jalur berbeda yang bisa kau pilih untuk bisa sampai ke Mangkang. Pertama lewat kota. Kamu akan melewati Pasar Karang Ayu, Paragon Mall, dan Tugu Muda yang sering ramai karena dijadikan lokasi berkumpul acara sepeda bareng atau sekedar dijadikan tempat olahraga pagi warga Semarang. Agak lama karena rute yang ramai, dan jarak tempuhnya lebih jauh.

Tuesday, 12 February 2013

Suatu hari


Akan ada hari, dimana kau hanya bisa menatap pedih foto kita berdua. Aku dan kamu tersenyum, pada siapa saja yang memandang foto kita. Pada saat itu, entah apa yang ada di benakmu. Mungkin saja kau merasa separuh jiwa dan hidupmu ikut terkubur bersama jasadku. Namun bukan itu harapanku. Tentu saja aku akan bahagia saat kau perlahan mengikhlaskan kepergianku. Mendoakanku, mengampuni segala kekhilafan selama hidupku mendampingimu.

Entah berapa lama aku akan tetap hidup di sanubarimu. Dulu kau selalu bilang: aku mencintaimu sampai kapanpun. Apakah kini masih tersisa cintamu itu? Aku sadar betul, kau manusia biasa Mas. Aku juga tak mungkin tega membiarkanmu sendiri dan kesepian di masa tuamu. Jika ternyata selepas kepergianku kau menemukan seseorang yang mau menemani dan merawatmu dengan tulus, aku rela. Suatu saat nanti, jika Tuhan mempertemukan kami, aku pasti akan sangat berterimakasih padanya, yang telah menjagamu dengan baik.

**

Thursday, 10 January 2013

Nrimo ing Pandum



Memikirkan mereka –bayu, mega, dan mentari– mengingatkanku pada kisah seorang Jlagra (baca: jlogro) yang artinya itu kira-kira: orang yang pekerjaannya mencari batu di kaki gunung kemudian menghancurkannya menjadi kecil-kecil, untuk kemudian dijadikan bahan bangunan.




Kisah ini kudapatkan waktu pelajaran bahasa jawa SD dulu. Judulnya Nrimo ing Pandum. Kisah yang menarik dan banyak mengandung pesan moral ini masih melekat di ingatanku hingga saat ini. Let me tell u about it.

Ceritanya, Si Jlagra ini suatu hari mengeluhkan pekerjaannya yang berat. Ia berandai-andai, ingin menjadi seorang raja. Ketika itu, muncullah sebuah suara yang entah dari mana asalnya. Suara itu berkata, keinginan Si Jlagra bisa terwujud. 

Tuesday, 18 December 2012

Gugur



Helai demi helai mahkota mawar berguguran. Itu berarti semakin dekat pula aku dengan ulang tahunku ke-24. Sedih? Pastinya.. Karena hingga saat ini, aku belum mendapati sosok yang benar-benar tulus mencintaiku. Tentu saja tidak mudah mencintai lelaki yang tidak tampan sepertiku ini. Astaga, aku bahkan lupa kalau aku bukanlah seorang lelaki. Bukan, aku ini monster. Ya, monster mengerikan. Gadis mana yang hendak mencintai seorang monster?

Aku menghabiskan waktuku di sebuah istana megah yang kusam dan gelap. Sendiri, melamun. Atau kadang berbicara seperlunya dengan mereka, yang setia menemaniku di istana. Ketika gadis itu datang, aku sempat merasakan kebahagiaan. Istana yang gelap terasa terang karena kehadirannya. Aku bahkan sempat menyimpan secercah harapan. Harapan untuk dicintai dengan tulus. Namun ternyata, gadis itu kini pergi begitu saja. Ah.. Mengapa ayahnya harus sakit? Hingga dia harus meninggalkanku demi merawat ayahnya. Aku merasa sepi kembali. Hidupku suram..

Thursday, 6 December 2012

My First Love at College was Unpredictable



I had never been thinking that I would get a boyfriend at this college. First time I came here, I felt there was nothing special here. I joined some activities for new college students and my classes regularly. But it was also didn't make me happier than before.

But one day, someone changed my mind. He made me more diligent to go to campus. He is one of mu friend in my IC (Intensive Course) class. I guess he is a handsome and kind boys. I was true. He was very care to me. I was so happy. He gave me special attention. We did the assignment together. Sometimes, he came to my boarding house. We also had dinner together and went out on Saturday night for several times. I enjoyed every time with him.



One day he said to me that he loved me. I was so shocked, happy, and confused. I didn't say that I love him too. I needed to ask suggestion to my best friend. She supported me to be his girlfriend.

A week later, when he had birthday, I met him and I said that I loved him too. He was so happy. He said that I was the most beautiful gift that he had gotten. My first love at college was unpredictable :)


Tuesday, 9 October 2012

'Pause' and 'Play'



brakk!!!

gelap.
Tuhan menekan tombol "pause" untukku
dan semuanya berhenti sesaat.
Sesaat yang entah berapa lama.

Kubuka mata,
Tuhan menekan tombol "play" kembali untukku
kudapati sosokmu, membaca al-Qur'an di sampingku

aku terbatuk,
kau menoleh
tersenyum dan mengucap syukur
aku tersadar, kau tak seharusnya di sini
bukankah seharusnya kau ada di rantau?

"aku haus..."

Friday, 11 May 2012

I’ll Be There for U, Sinta…


         Kepala Sinta masih terasa pusing saat seseorang mengguncang tubuhnya. Sayup-sayup ia mendengar orang itu bicara padanya.
“Sin, cepetan  bangun!”
“Hoamh…” Sinta menggeliat dan menguap, tapi tak juga membuka matanya.
“Sin, cepetan donk. Ada telpon dari Mba Ririn tuh !”
Mendengar nama kakak pacarnya disebut, Sinta membuka matanya sedikit. Ternyata Santi, saudara kembarnya yang dari tadi membangunkannya.
“Mba Ririn?”

Friday, 20 April 2012

Demi Bapak

Bagi sebagian besar siswa kelas XII, masa-masa akhir SMA merupakan masa yang paling ditunggu-tunggu. Walaupun sedikit menegangkan karena harus menempuh berbagai ujian sebelum meninggalkan SMA, namun terasa menyenangkan karena sebentar lagi mereka berganti status dari siswa menjadi mahasiswa. Namun tidak untukku. Bagiku menunggu saat-saat kelulusan SMA ini sama saja menunggu berakhirnya masa mudaku…


Pagi itu saat istirahat pertama di sekolah, aku berkunjung ke ruang Bimbingan Konseling (BK). Hari ini, seperti yang telah dijanjikan Bu Ratih, kami akan mengetahui pengumuman perolehan beasiswa bagi calon mahasiswa baru. Satu minggu yang lalu, aku mengajukan beasiswa ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri ternama di Jawa Barat.